UpdateTerkini.id – Dunia kembali menahan napas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan paling kerasnya sejauh ini terhadap Iran. Bukan sekadar ancaman diplomatik, tapi kalimat yang terdengar seperti pengumuman kiamat versi geopolitik.
Dalam wawancara eksklusif dengan NewsNation yang ditayangkan Selasa malam (20/1/2026) waktu setempat, Trump dengan dingin menyatakan bahwa Iran bisa “dihapus dari muka bumi” jika ada sesuatu yang membahayakan dirinya.
Pernyataan itu muncul di tengah memanasnya hubungan Washington–Teheran, pascagelombang unjuk rasa berdarah di Iran yang menewaskan ribuan orang dan memicu tuding-menuding antar kedua negara.
“Mereka seharusnya tidak melakukan itu,” kata Trump, merujuk pada retorika ancaman dari Teheran.
“Namun saya sudah meninggalkan pemberitahuan. Jika terjadi sesuatu, kita akan meledakkan seluruh negara itu.”
Kalimat tersebut bukan sekadar gertakan. Trump mengaku telah memberikan mandat khusus kepada pihak-pihak terkait untuk mengeksekusi langkah balasan paling ekstrem jika Iran benar-benar menyerang dirinya.
“Saya punya instruksi yang sangat tegas. Jika terjadi sesuatu, mereka akan menghapus mereka dari muka bumi ini,” tegasnya.
Ancaman ini bukan yang pertama. Trump sebelumnya juga sempat mengisyaratkan kemungkinan menyerang kepemimpinan Iran secara langsung. Ia bahkan mengklaim, Iran sempat melunak setelah menerima tekanan keras dari Washington. Namun kini, api kembali menyala.
Di sisi lain, Teheran tidak tinggal diam.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan peringatan balasan yang tak kalah keras. Menurutnya, setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akan dianggap sebagai deklarasi perang terbuka.
“Serangan terhadap pemimpin besar negara kami setara dengan perang skala penuh melawan bangsa Iran,” tulis Pezeshkian di platform X, Minggu (18/1/2026).
Pernyataan itu disampaikan di tengah spekulasi global bahwa Trump tengah mempertimbangkan opsi ekstrem, termasuk upaya pencopotan atau bahkan pembunuhan Khamenei.
Pezeshkian juga menuding Amerika Serikat sebagai dalang di balik gelombang protes yang mengguncang Iran selama dua pekan terakhir. Aksi tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 4.000 demonstran dan membuat puluhan ribu orang ditangkap.
“Jika rakyat Iran hari ini hidup dalam tekanan dan kesulitan, salah satu penyebab utamanya adalah permusuhan berkepanjangan serta sanksi tidak manusiawi dari pemerintah AS dan sekutunya,” ujar Pezeshkian, seperti dikutip The Guardian.
Sementara kapal induk Amerika bergerak mendekati Timur Tengah dan retorika kedua negara semakin brutal, satu pertanyaan besar kini menggantung di udara:
Apakah ini masih sekadar perang kata-kata, atau dunia benar-benar sedang menghitung mundur menuju konflik besar berikutnya?


















