Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaHeadlineRagam

Dari Paket C ke UGM, Kini Tiyo Ardianto Tantang Program Andalan Prabowo–Gibran

84
×

Dari Paket C ke UGM, Kini Tiyo Ardianto Tantang Program Andalan Prabowo–Gibran

Sebarkan artikel ini
Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM diteror usai kritik MBG.
Example 468x60

Tiyo Ardianto Guncang Publik Usai Kritik MBG Prabowo–Gibran

Nama Tiyo Ardianto mendadak menjadi perbincangan nasional. Ia bukan selebritas. Ia bukan pejabat. Namun suaranya menggema setelah mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi unggulan pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Kritik itu tidak berhenti di media sosial. Surat disebut telah dikirimkan kepada UNICEF. Dampak kebijakan tersebut dipertanyakan. Transparansi program disorot. Prioritas anggaran dipersoalkan.

Example 300x600

Tak lama setelah itu, teror di media sosial diklaim mulai diarahkan kepadanya. Ranah personal ikut terseret. Keluarganya disebut ikut menjadi sasaran.

Isu pun melebar. Publik mulai menelusuri siapa sebenarnya sosok Tiyo Ardianto.


Bukan Produk Jalur Elit: Dari Paket C Menuju UGM

Di balik posisinya sebagai Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, Tiyo menyimpan kisah yang tidak lazim.

Ia adalah lulusan Paket C. Ia merupakan alumni PKBM Omah Dongeng Marwah di Kudus. Latar belakang itu diungkapkan secara terbuka melalui media sosial pribadinya.

“DARI ODM KE UGM,” tulisnya singkat.

Ia berasal dari keluarga sederhana. Pekerjaan orang tuanya tidak masuk kategori elite. Pendidikan keluarga tidak tinggi. Kondisi ekonomi pun terbatas.

Kesadaran akan realitas itu membentuk cara pandangnya. Pendidikan tidak dianggap sebagai takdir. Sekolah dilihat sebagai lahan. Hasil ditentukan oleh cara mengolahnya.

Keputusan besar diambil tiga tahun setelah lulus SMP. Jalur pendidikan alternatif dipilih. Risiko sosial diterima. Stigma ditelan.

Ijazah formal dan nonformal, menurutnya, sama-sama rapuh. Nilai manusia tidak ditentukan oleh selembar kertas.


Kritik MBG dan Frasa yang Meledak

Sorotan publik memuncak ketika Tiyo menyurati UNICEF terkait MBG. Kritik diperkeras. Ia bahkan menyebut pemerintahan saat ini sebagai “rezim yang bodoh dan inkompeten.”

Program Makan Bergizi Gratis diplesetkan menjadi “Maling Berkedok Gizi.” Pernyataan itu viral. Perdebatan dipanaskan. Polarisasi diperlebar.

Sebagian pihak mendukung keberaniannya. Sebagian lain mengecam keras sikap tersebut. Kritik tajam itu dianggap berlebihan. Namun isu anggaran pendidikan ikut kembali diperdebatkan.

Menurut Tiyo, beban fiskal negara bertambah. Pajak rakyat disebut menjadi sumber utama. Pemangkasan anggaran pendidikan disoroti sebagai konsekuensi tidak langsung.


Imajinasi Reformasi Jilid II

Dalam perbincangan di Kudus, Tiyo memetakan tiga krisis: kemerosotan demokrasi, krisis politik, dan ancaman krisis ekonomi.

Apatisme publik disebut sebagai bahaya tersembunyi. Ketidakstabilan elite disinggung. Lonjakan utang negara ikut dipertanyakan.

Narasi krisis dinilai sedang dibangun. Pemerintah beralasan utang diperlukan untuk mencegah krisis seperti 1998. Namun argumen itu dianggap sebagai sinyal penundaan masalah, bukan penyelesaian.

Reformasi jilid II pun digaungkan sebagai imajinasi politiknya.


Kontroversi yang Belum Usai

Nama Tiyo Ardianto kini tidak lagi sekadar mahasiswa. Ia menjadi simbol kritik generasi muda terhadap kebijakan negara.

MBG tetap berjalan. Kritik tetap dilontarkan. Respons publik terus terbelah.

Perdebatan belum selesai. Dan suhu politik tampaknya belum akan turun dalam waktu dekat.

Example 300250
Example 120x600