DEVOS – Dunia kembali menahan napas. Dalam panggung elite global World Economic Forum di Davos, Swiss, Presiden Amerika Serikat Donald John Trump melontarkan pernyataan yang langsung mengguncang geopolitik dunia.
Berbicara di hadapan para pemimpin negara dan tokoh ekonomi global, Trump menyinggung sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel. Namun, kali ini bukan pujian yang ia lontarkan, melainkan klaim mengejutkan.
Trump secara terbuka menyatakan bahwa teknologi Iron Dome bukan sepenuhnya milik Israel. Menurutnya, teknologi inti sistem tersebut adalah buatan Amerika Serikat.
“Saya sudah bilang kepada Bibi untuk berhenti mengambil pujian atas kubah itu. Itu teknologi kita, itu milik kita,” ujar Trump, merujuk pada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Tak berhenti di situ, Trump mengungkap rencana ambisius yang jauh lebih besar. Amerika Serikat, kata dia, akan membangun sistem pertahanan baru bernama Golden Dome atau Kubah Emas, yang diklaim jauh melampaui Iron Dome.
“Kami akan membangun kubah yang tidak seperti yang lain. Apa yang kami lakukan untuk Israel luar biasa, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah kami rencanakan untuk Amerika Serikat, Kanada, dan seluruh dunia,” tegasnya.
Golden Dome disebut akan menjadi perisai raksasa bagi Amerika Utara, dengan teknologi pertahanan rudal paling canggih yang pernah dibuat. Proyek ini diperkirakan menelan biaya fantastis, mencapai 175 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.959 triliun, berdasarkan laporan Reuters.
Sejumlah raksasa industri militer AS seperti Northrop Grumman, Lockheed Martin, hingga Anduril telah menerima kontrak awal untuk mengembangkan prototipe sistem tersebut.
Namun, pidato Trump tak hanya soal teknologi dan anggaran. Ia juga melontarkan ancaman keras terkait konflik Gaza.
Trump menyatakan bahwa Hamas diberi waktu singkat untuk menyerahkan senjatanya. Jika tidak, ia berjanji akan mengambil tindakan ekstrem.
“Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan dihancurkan dengan sangat cepat,” kata Trump dengan nada tegas dalam sesi tanya jawab pasca-pidato.
Pernyataan ini langsung memicu spekulasi luas tentang eskalasi konflik di Timur Tengah, sekaligus mempertegas gaya kepemimpinan Trump yang agresif, konfrontatif, dan tanpa basa-basi.
Dari Davos, satu pesan disampaikan dengan jelas: Amerika Serikat, di bawah Trump, siap membangun perisai raksasa dan tidak ragu menghancurkan siapa pun yang dianggap melawan.


















